Lembah Manah Khwajagan

Diposting oleh Unknown on Selasa, 03 Maret 2009



Kamis 15/10/07 pukul 02.00 di Lembah Manah Khwajagan - Pekanbaru :

Malam yang dihidupkam diatas zawiyah,
Dengan nyala cinta dan kerendahatian,
Disela redup senyapnya jagad raya,
Gemerlap megahnya istighfar menyapu kekhilafan,
Syahdunya shalawat kerinduan menyalakan sinaran,
Dan kalimat tauhid turut menghidup besarkan nyalanya...
Temaramlah jiwa...


Dalam lembah Khwajagan yang terasing,
Semak belukar dan rimbun hutan,
Juga mengalir air yang tiada berputus
Mengikuti membangun malam agung
Ikan-ikan dikolam...tak ada yang berloncatan...
Larut ...dalam dzikir dan doa yang dinaikkan di 'Arsy serentak ...Allah...Allah...Allah


Airmata meleleh menganak sungai
Tetes menetes jatuh disela tangan-tangan yang tengadah
Penuh iba
Suara isak bergetar bagai dawai dipetik mengharap ridha
Gemulung tiada berputus menjemput rahmat dan ampunan

Kesenyapan malam yang berselimut gelap
Serta sejuknya hembusan angin
Tanda kebesaranMu akan sebuah pergantian

Bising menjadi hening
Terik menjadi dingin
Keruh menjadi bening

Seakan malam pun bersimpuh keharibaanMu
Tiadalah semua yang tenang itu diam
Dalam kedamaian Asma AgungMu disemaikan

Subhanallah...Subhanallah...Subhanallah



(Terima kasih seumur hidupku Wahai yang lebih dari orang tuaku, Wahai yang lebih dari guruku, Wahai yang paling kuhormati dan sayangi ... Syekh Mustafa Haqqani ... yang mengenalkanku bagaimana cara menikmati pijar utuhnya Tauhid, indahnya bersunnah mengikut Rasul mulia dan hidup kasih sayang dalam jamaah NH)
SelengkapnyaLembah Manah Khwajagan

Tulisan ini kado untuk cucuku, Deden.

Diposting oleh Unknown






Uways or Umair or Deden ?

"Dedennn...",teriakku memanggil.
Tak ada yang menyahut.
"Dedennn...!!,"teraikku lagi. Anak gadisku datang, cuma melongok emaknya dengan tampang bengong. Sedang jejakaku no 3 bertanya,"Mah, Deden sapa?, Ummah sedang telpon tah?",tanyanya tak kalah bengong.

Tiba-tiba tawaku meledak. Tak tahan juga melihat tampang bengong penuh tanda tanya diwajah jejaka dan gadisku ini. Makun saja mereka mendorong-dorong tubuhku untuk mengatakan siapa si Deden.

Sambil menahan tawa yang benar-benar tak tertahankan, kubilang,"Nak, nanti cucuku kuberi panggilan Deden",kataku sambil membayangkan pasti Nadia berteriak tak mau. Karena semua keluarga kami memilih nama dengan nama yang berbau islami dan mengandung simbol doa.

"Mahh...gak lah..apa-apaan sih?",jeritnya kaget.
"Nikah ja 3bulan lagi, nah nama panggilan sudah dibuat, Deden lagi..",sambungnya sambil berteriak dalam tawa meledak.

Jadilah sehari-hari nema si Deden jadi bahan canda kami. Seringnya berpura-pura ada sosok bayi kecil lucu yang hadir dalam kehidupan kami dan,"Deden...ayo turun Nak...kok laptop Ummah di naiki seh..",seloroh entah siapa diantara kami bertiga bila ingin memecah hening. Maka tawa segera mencair.

Mbak Nadia kupanggil Ibunya Deden. Noval memanggilku Neneknya Deden. Dan Noval punya panggilan Oomnya Deden. Hehehehe.



Suatu sore, Cutkak Fadia telp. Setelah panjang lebar bincang, dia tiba-tiba bilang,"Mah, Cutkak pengen adik Mah. Kapan ya Mah punya adik?".
Fiuuuhhh....
Kujawab,"Iya, ntar lagi bila Mbak Nadia menikah ma Bang Fau, Cutkak segera punya adik ya Nak.."
"Sapa Mah namanya?"
"Deden, Nak.."
"Sapa Mah.."
"Deden!!"
"Kok Deden sih Mah, aku gak mau. Aku ingin adikku bernama Uways. Uways AlQarni. Seperti adiknya Umair ya Mah. Biar adikku bernama Uways ada 3 orang Mah. Karena disini Indah temanku punya adik Uways juga. Ya..namakan Uways ya Mah..jangan Deden..",pintanya lucu.
"Insya Allah Nak", kataku sambil tak tahan melepas tawa gara-gara Deden.
Uways, Umair atau Deden..tak jadi soal. Tapi kami semua hendak menjemput kehadiranmu wahai cucuku dalam segenap doa ditiap shalat 5 waktu juga sunnahnya, agar dzurriyatku lahir menjunjung tinggi risalah Rasul.

Oh cucuku sayang, Granny sayang kamu Nak... Selamat datang wahai cucuku dalam doa dan harapan. Engkau pasti sedang menantikan untuk segera hadir di kehidupan bersama kami semua. Insya Allah dalam berkah.
SelengkapnyaTulisan ini kado untuk cucuku, Deden.

SINDROM CILAMKERMI

Diposting oleh Unknown



Hujan deras mengguyur hebat. Kubuka jendela dan kulongokkan wajah menikmati sepoi angin yang menerpa diiringi tetes-tetes air. "Ya Allah, setiap tetes hujan adalah rahmatMu, setiap tetes penuh makna, ada sumber kehidupan disana, setiap tetes dihantar malaikat suciMu, setiap tetes adalah pekerjaan yang ajaib memukau, setiap hujan adalah waktu mustajab untuk berdoa..."

Kuhirup bau tanah dan hujan, senyum menggurat diwajahku, saraf-saraf dikepalaku tertarik ringan. Kunikmati sensasi penuh manja dengan hujan. Mataku menyapu halaman, hijau daun bermandikan air langit yang menetes bergantian, Bergulir dari ujung hingga ke pangkal. Subhanallah... Kerja Allah yang luarbiasa. Terima kasih atas siang yang sejuk ini ya Allah.
Ketika hujan mereda, putra ke-3, Noval menenteng sepatu dan nyengir,"Maaahh...kehujanan",

Aku berpesan padanya untuk makan siang yang sudah kusiapkan, tempe goreng mendoan dan teri nasi goreng. Ia mengangguk riang. Dan melambai tangan ketika sepeda motorku melaju meninggalkan halaman tempat tinggalku.
Warnet Nabilah menjadi langgananku untuk nongkrong. Karena murah, cuma Rp 2000/jam. Segera kubuka mailboxku yang penuh dengan milis. Dannn...
YMku nampak putriku - Mbak Nadia sedang di Madura - mengurus raport dan surat keterangan yang diperlukan untuk keperluan kuliahnya kelak - sedang online. Sejenak chatting dengannya juga dengan DJ (Khadijah, friend of Nadia).
Membaca blognya di chesterrush.blogspot.com membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Gaya nulisnya segar dan cara berpikirnya sejuk, menyejukkan hatiku yang telah disejukkan hujan siang tadi.

Tutt ttiiitt..tuuttt tiitt.. HPku berbunyi. Kubernafas panjang dan terpejam sejenak. Dan,"Assalamu'alaikum...?",

"Wa'alaikumussalam warahmataullahi wa barakatuh", suara diseberang sangat kukenal. Suara Cut Bang, Ayah Fadia yang 2 hari lalu membuatku menangis tersedu-sedu. Sms-smsnya seperti martil mematok-matok kepalaku.

"Hehehehe Cut Bang, menjawab salamnya kok nadanya seperti pengajian seh.."
"Apa kabar dik hehehehe",suaranya tersendat dan nampak masih kaku. Suara besar, serak, dan nampak payah.

"Alhamdulillah, sangat baik Cut Bang, Cut Bang sehat?",kataku penuh semangat, maklum hujan dan tulisan blog Nadia membuatku sangat fresh. Mempengaruhi tone suaraku.

"Dikk...kok nampak gembira sih..senang ya Cut Bang telp?",wah..mulai menggenit nih.

Aku tertawa. Berceritalah Ayah Fadia ini tentang kesibukan dan kepenatan yang ia alami. Tak pernah henti untuk kerja, mulai dari usaha-usaha yang tertebar di nusantara hingga LN. Kuiyakan dengan antusias. Walaupun aku sudah hafal dari dulu sewaktu kami masih bersama, beliau kesana sini, kadang amburadul juga. Kudengarkan keluhannya.
Dan...ia mengakhiri.

Beberapa menit kemudian, telp lagi. Sambung tertawa-tawa dalam cerita. Berakhir lagi.

Beberapa menit telp lagi.

"Cut Bang...kok putus nyambung, putus nyambung sih.. apa lagi yang mau diomongkan?",tanyaku.
Derrrr.... Beliau kembali seperti biasanya, menyatakan tak bisa melupakanku.

"Lho, kan kita sudah bercerai 3 tahun. Kenapa dibahas lagi, Cut Bang.. Kan sudah ada istri-istri yang lain,"

Wow..sindrom cilamkerli. Cinta lama bersemi kembali.

Sms dikirim bersahutan.

Kembali ditelp setiba dirumah. beliau minta kembali rujuk. Kukatan berkali-kali bahwa aku menikmati kesendirianku. Biarlah beliau menjadi saudara saja bagiku.

Kulayangkan smsku :
Salad tambah buahnya,
Jangan kedondong,
Diingat boleh saja,
Diulang jangan dong

Ah, perpisahan kadang menyakitkan. Tapi lebih menyakitkan hidup bersama orang yang tak pernah memutuskan untuk mencintai kita seutuhnya. So, jomblo tanpa status jelas seperti ini kayaknya makin indah saja yach. Karena ex ketika mengiba terasa seperti kalimat surga hehehehe...

Apapun, inilah yang terindah dari Allahku, kuterima apa adanya.
SelengkapnyaSINDROM CILAMKERMI

BUKAN BOHONG - TAPI SUDUT PANDANG YANG BERBEDA

Diposting oleh Unknown

"Abi baru pulang..!",seru Ummiku dengan mata bulat-bulat.
Kutolehkan wajahku kearah pagar. Dikejauhan nampak mantan kekasihku alias Abi Mbak Nadia sedang berjalan. Nampak siluet perawakan tambunnya, dengan songkok hitam. Dan ia sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Segera kumasuk dalam rumah Ummi.
Deg! Abuyaku tengah duduk. Wajahnya masih nampak sisa-sisa merah padamnya. Wah, tadi kebakaran ya, kok wajah Ayahku ini masih berasap.
Belum kududuk, Ummiku menyambut dengan cerita serunya bagaimana Abi mencari-cari Mbak Nadia. Ia marah besar dan mengutuk aku yang mengajari anak kami berbohong. Maka jadilah Nadia anak yang tidak bisa diatur dan ahli bohong sepertiku.

Wow.... gelar yang cukup deg! Sewaktu mendengar, kusikapi biasa saja sampai Ummiku selesai bercerita. Tapi hatiku sedang bercakap-cakap pada Allah. "Ya Allah, hamba tiada punya kuasa selagi hamba tunduk pada hawa nafsu. Hamba berlindung dari tipu daya syetan dan nafsu apapun bentuknya. Hamba berlindung dari liciknya hawa nafsuku bila mengajak undang murkaMu. Berbohong, marah, apalagi hilang rasa kasih - yang meluap-luap untuk membalas tuduhan ini".

Aduh, gampang memang hampir semua orang mudah menuduh, menghakimi, memvonis tanpa tahu dulu duduk permasalahannya.
Tidak ada persoalan apapun sebenarnya. Kecuali putri tertua kami - Mbak Nadia - datang di Malang tidak memberitahukan padanya, sebagai Abi. Padahal beberapa minggu yang lalu, Abi mengirimkan sepeda motor ke Gresik - tempat Mbak Nadia mengabdikan diri - tugas akhir dari PP AL Amien.
Karena sesuatu hal, Mbak Nadia dan kawannya mengadukan padaku permasalahan yang sedang dihadapi di tempat pengabdian. Nah, kusarankan keduanya untuk menyampaikan hal ini pada PP Al Amien - tempat nyantrinya. Nah, keputusan dari PP Al Amien, keduanya ditarik dari Gresik. Mbak Nadia ditempatkan di Malang. Sedang kawannya di Madura.

Lalu kenapa Abi marah???
Beliau merasa tidak dimuliakan sebagai orang tua. Tidak diberitahu kepindahan Mbak Nadia. Oupsss...krisis percaya diri atau memang ada menyampaikan informasi kedatangan putri kami - tapi dengan format yang berbeda. Sehingga menghasilkan reaksi Abi yang berbeda. Sssstt..padahal Abi tuh sebenarnya cakep, ilang deh cakepnya bila pake teriak-teriak
"Sepeda motor akan saya ambil lagi. Anak tidak bisa diatur. Tukang bohong. Saya ini membuat pesatren putri untuk dia pegang, lha kok dia gak bisa diatur. Ya sudah, jika semua anak tidak bisa diatur, saya tidak akan mau membiayai... bla bla bla",Ummiku menirukan bagaimana rentetan amuk luap emosi Abi.

"Ya sudah, gak mau mbiayai anakmu, monggo..itu hak-hakmu... Tidak apa-apa. Aku gak ngiba-ngiba padamu...,"kujawab gitu, kata Abuya.
Sekali lagi aku hanya diam. Datar. Abuya menasihati untuk berbuat segala sesuatu tidak lagi menutup-nutupi apapun. Termasuk hal-hal kecil. Aku diam.


Mbak Nadia yang biasanya easy going alias kelebihan dosis cueknya, kali ini lembayung banget.

Diam.

Duduk terpaku didepan komputer, utak atik, tapi tetep dengan diam. Aku tak mampu melihatnya begitu. Kelembutan hati seorang ibu kembali mengusikku, air mataku meleleh deras.



Aku sangat kasihan padanya. Karena ia dalam keadaan butuh dukungan menjelang SMPTN, masa pengabdian yang harus dijalani, belajar mandiri soal-soal SMPTN, membantu tugas harian, dan mempersiapkan hari pernikahan bulan Mei ini insya Allah.
Masalah dengan Abi sampai hari ini memang sangat berlarut-larut. Aku tak tahu cara tepat menyikapinya. Ketika Mbak Nadia menerima lamaran, intimidasi dijalankan Abinya. Beliau tak lelah nelpon sana-sini, mengumpulkan simpatisan mulai dari Ibuku, Bu Dheku, adikku, dan orang-orang yang terkait denganku untuk tidak setuju dengan pernikahan Mbak Nadia. Uhuuu... seru ketika itu.

Tapi anehnya, sangat manis sekali ketika kami dan keluarga calon mantu datang kepesantrennya. Malah ikut ke Madura untuk membalas kunjungan ke calon besan.
Tapi tetap main ancam, tekan, dan yang sebaliknya pada Mbak Nadia untuk tidak meneruskan langkah dengan calon suami. Alasan suku maduralah, ekonomi rendah lah, sama-sama anak pertama lah, dan alasan tidak masuk akal apalagi kami sama-sama keluarga pesantren yang nota bene lebih paham bahwa ketaqwaan justru lebih utama daripada yang lain dalam memilih jodoh. Nah!
Aku cuma diam. Tidak perlu reaktif.

Kupeluk putriku,"Ummah, sayang kamu Nak..". Airmatanya menetes perlahan. Kuelus kepala gadisku, sama seperti ketika kumengelusnya 17tahun yang lalu. Kubesarkan 3 anak sendiri ketika sang Abi meninggalkan kami semua ketika itu.
Tak pernah henti Abi mendiskreditkan apapun yang bersumber ide dariku. Seakan ajakan dariku untuk bermusuhan.

Subhanallah... Allah itu luarbiasa ya... Ia memberikan hamparan hikmah untuk mengais kearifan. Ketika belajar tulus, terlemparlah batu kekejian menghujam diri. Ketika belajar bertaubat, duri-duri syetan bernama gara-gara menusuk hati. Ketika belajar mengampuni dalam ikhlasnya memaafkan, justru semakin menggila bara api murka dinyalakan baranya.

"Nak... Mari keluar dari kungkungan hidup karena ketidakmauan kita menerima kenyataan apa adanya. Mari berpikir sederhana. Jangan terjebak persepsi. Temukan kesejukan pikiran, gali ketentraman perasaan, sentuh jiwa yang tenang, hanya kembalikan semua masalah ini pada Allah yang telah mengizinkan masalah ini terjadi. Yakinlah Nak, tidak ada yang mustahil bagi Allah.
Masalah apapun boleh ada. Tapi tautkan hati dan kesadaranmu utuh pada Allah. Sebut namaNya. Abi tetap Abimu, orang yang pernah bersama Ummah, orang yang pernah Ummah kasihi, bukan masalah kenapa Abi seperti itu, tetapi kita harus kasihan betapa tersiksanya Abi dengan cara berpikir dan bersikap yang bertolak belakang... Berdoa banyak ya Nak.. Yang menjalankan kehidupan kelak adalah kamu. Bukan Ummah atau Abi. Hargai pikiran Abi, tetapi bukan berarti menuruti hal-hal yang irasional apalagi jauh dari rasa bertuhan...".

"Iya Mah...",katanya sambil tersenyum. Dan tak begitu lama, ia mengajakku membuka laptopku. Aku diajaknya berseru menyusun jadwal liburan adik-adiknya. Masya Allah... benarlah... rasa tenang adalah muara bahagia. Tenang bisa didapat dengan sentiasa terus menerus menautkan hati pada Allah.
SelengkapnyaBUKAN BOHONG - TAPI SUDUT PANDANG YANG BERBEDA